Kini, strategi itu dipadukan dengan penguatan destinasi unggulan. Kehadiran Jembatan Kaca Bromo di Seruni Point menjadi magnet baru yang melengkapi ekosistem wisata di pintu masuk Probolinggo. Wisatawan dapat menikmati panorama dari jembatan kaca, menjelajahi lautan pasir, hingga menyaksikan pertunjukan seni budaya dalam satu kawasan.
Pengunjung tumpek blek. Seruni Point diserbu wisatawan yang antusias nikmati Bromo Sunset Music and Culture. (Foto: iNews Malang/Ryan Haryanto)
Langkah cerdik juga diambil lewat agenda bulanan Bromo Sunset Music and Culture di bawah binaan Disporapar Kabupaten Probolinggo. Mengandalkan tangan dingin pemuda kreatif lokal yang tergabung dalam Bright Pantura, mereka berhasil menyajikan formula baru: menikmati senja Bromo berbalut harmoni musik jazz dan tarian tradisional.
Langkah ini terbukti sangat sukses. Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Probolinggo (@bpskabprobolinggo) pada edisi April 2026, indeks kepuasan pengunjung di pintu Probolinggo menyentuh angka 88,82 persen (Sangat Baik).
Bupati Probolinggo, dr Mohammad Haris (Gus Haris), menegaskan keunikan pintu Probolinggo kini terletak pada “roh” budayanya. Tiap kabupaten punya keindahan alamnya masing-masing di Bromo. Komitmen Pemkab Probolinggo adalah menghidupkan roh kebudayaan itu. Alam yang indah jika dipadukan dengan tata kelola seni yang profesional akan menghasilkan dampak ekonomi kreatif yang luar biasa bagi warga lokal.
Editor : Ryan Haryanto
Artikel Terkait
