Menelisik Istilah Arema Sebagai Identitas Kultural Warga Malang Raya

Arif Han
.
Kamis, 07 April 2022 | 07:25 WIB
Muhammad Nashir

Oleh : Muhammad Nashir*

*Pegiat Budaya Tinggal di Malang

 

Arema yang kini artinya kepanjangan dari Arek Malang, telah menjadi identitas warga Malang Raya, tapi kapankah istilah itu lahir dan menjadi identitas warga Malang secara umum ?

Ada banyak pendapat tentang kapan lahirnya istilah Arema, kata Arema juga sempat muncul pada masa Kerajaan Kretanegara di Singhasari dengan salah satu nama patihnya yaitu Patih Kebo Arema, tapi apakah itu bisa dipakai acuan dengan kemunculan nama Arema dimasa modern ini ? Jawabannya tidak, sebab pada masa Kretanegara masih belum mengenal istilah Arek, seperti gambaran istilah Arema dijaman kekinian yang  kepanjangan dari sebutan Arek Malang.

Entah apa arti dari nama Kebo Arema pada masa itu, tapi kesamaan nama ini cukup menarik juga.

Sejauh ini penulis mencoba menelusuri dengan cara ngobrol dengan orang-orang Malang yang lahir di era 50-60an, secara umum mereka bersepakat bahwa istilah Arema di kota Malang belum familiar di telinga warga Malang hingga pada tahun pertengahan 80an, dan penulis pun merasakan hal yang sama di kampung penulis, bahwa nama Arema belum familiar di tengah warga Malang Raya itu sendiri.

Istilah Arema sejatinya lahir dan besar di tanah rantau, tepatnya lahir di Jakarta sekitar tahun 1975-1977an, saat itu banyak Arek Malang yang merantau dan tinggal di Ibukota, mereka umumnya bekerja serabutan selain beberapa diantaranya mereka adalah anggota TNI dari kesatuan Marinir (KKO nama trend saat itu), ada yang masih aktif sebagai anggota kesatuan dan ada juga yang sudah desersi dari keanggotaan militer tersebut.

 

Mereka bersatu dengan perantau lain yang bekerja di Pabrik, baik sebagai buruh pabrik maupun centeng (bagian keamanan) juga para sopir truk ekspedisi Malang - Jakarta (Mlaku Kulonan istilah trend saat itu).

Kondisi politik saat itu adalah masa awal Orde Baru mengokohkan cengkeraman nya di negeri ini. Orde Baru saat itu memakai basic militer untuk mengokohkan cengkeramannya, tapi juga memakai kekuatan masyarakat bawah (terutama preman) untuk mengelola gejolak sosial ditengah masyarakat.

Tak pelak lagi, hubungan yang sangat terstruktur dan kuat dari beberapa elemen antara Politisi, Militer, Pengusaha dan Preman benar-benar ampuh untuk mengelola kondisi politik dalam negeri, penguasaan asset dan proyek negara benar-benar mereka kuasai dengan baik, dan ketika ada gejolak dibawah keempat unsur elemen itu bersatu untuk bekerja sesuai porsinya masing-masing.

Premanisne di era 70an sangatlah berkembang pesat di Jakarta, seolah seperti halnya pada tahun 1928 dimana para pemuda daerah berkumpul dengan membawa bendera identitas daerahnya,  bedanya jika di tahun pra kemerdekaan itu para pemuda dari berbagai daerah dengan semangat revolusioner berpikir dan berjuang mencari Kemerdekaan Bangsa Indonesia, maka di tahun 1970an itu para pemuda dari daerah memakai atribut identitas kedaerahannya dengan semangat penguasaan wilayah jalanan.

Dan masing-masing kelompok dari daerah ini selalu punya bapak angkat (pengusaha, politisi atau pembesar Militer) dibalik layar pergerakan mereka.

Identitas kedaerahan ini akhirnya menjadi sangat penting bagi siapapun yang sedang merantau di Jakarta, istilah Arek di Jakarta adalah identifikasi dari masyarakat Jawa Timur, maka daerah yang ada di Malang Raya pun membuat nama sendiri-sendiri dan mereka ini kebanyakan adalah Sopir truk atau pekerja buruh yang ada di Jakarta, maka muncullah nama Ardam (Arek Dampit) Artur (Arek Turen) dan lain-lain.

Lalu para desertir dan pekerja dari Malang Raya yang ada di Jakarta itupun berkumpul untuk membuat kesepakatan bersama mencari istilah baru sesama Warga Malang Raya yang ada di perantauan, yaitu Arema alias Arek Malang. (iNews Malang)

 

Malang, 6 April 2022

Nashir Ngeblues

Editor : Arif Handono

Follow Berita iNews Malang di Google News

Bagikan Artikel Ini