Di Balik Keindahan Bromo, Mahasiswa UNS Surakarta Menemukan Kekuatan Budaya Tengger
Di tengah gempuran modernisasi industri pelancongan yang kian masif, potret sosiokultural masyarakat Tengger dinilai luar biasa. Pemandangan harian warga yang karismatik dengan balutan udeng (ikat kepala) serta kain sarung khas Bromo menjadi daya tarik tersendiri. Tradisi berpakaian itu dinilai menjadi benteng budaya yang kukuh dalam menjaga identitas.
Interaksi kultural para mahasiswa ini dipastikan bakal kian mendalam. Sebab, dalam waktu dekat mereka dijadwalkan terlibat langsung dalam pengamatan perayaan adat Hari Raya Karo. Kedekatan sosial dengan warga lokal itu memberikan perspektif baru yang memperkaya analisis modal sosial dalam laporan riset mereka.
“Bromo itu magis, bukan cuma soal kawah atau sunrise. Sisi budaya dan kehangatan warganya luar biasa. Siapa pun wajib ke sini untuk melihat Bromo dari sisi yang berbeda,” ungkap Laura Bella, anggota tim yang memegang subtema pariwisata, saat ditemui di Bromo Sky Cafe, Jumat (17/7/2026).
Sembari memandang hamparan Gunung Batok yang tersaji vertikal di depannya, Bella menceritakan pengalamannya menguji adrenalin di Jembatan Kaca Bromo (Bromo Sky Bridge) Bukit Kedaluh, Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura.
Melintasi jembatan sepanjang 120 meter di atas jurang sedalam 83 meter itu memberikan sensasi sekaligus cara pandang baru tentang pengelolaan fasilitas modern di area konservasi.
Editor : Ryan Haryanto