Di Balik Keindahan Bromo, Mahasiswa UNS Surakarta Menemukan Kekuatan Budaya Tengger
“Awalnya lumayan menegangkan, mendebarkan sekali waktu pertama melangkah. Tetapi begitu melihat lanskap Bromo secara utuh dari atas kaca, rasa tegang itu langsung kalah dengan rasa takjub,” imbuhnya.
Kerja lapangan kelima mahasiswa ini dipastikan jauh dari kesan pelesiran. Oleh pihak Balai Besar TNBTS, mereka dilibatkan langsung dalam agenda konservasi riil. Salah satunya adalah penanganan masalah klasik tahunan Bromo, yakni kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area savana.
Tak tanggung-tanggung, mereka ikut turun ke lapangan membantu petugas membuat sekat bakar (firebreak) sepanjang 1 hingga 3 kilometer. Langkah fisik ini vital untuk memutus rambatan api kala musim kering melanda vegetasi peka sabana.
Selain itu, pemantauan berkala juga dilakukan ke Kawah Bromo hingga pelacakan habitat primata dilindungi lutung jawa di vegetasi bawah Penanjakan.
Keterlibatan aktif mahasiswa ini mendapat apresiasi positif dari Camat Sukapura Nur Rachmad Sholeh. Menurutnya, Bromo tidak hanya menyimpan potensi wisata alam, tetapi juga kekayaan budaya masyarakat Tengger yang sangat layak menjadi objek kajian akademis.
“Kami menyambut baik kehadiran mahasiswa di Sukapura. Semoga hasil penelitian ini bisa menjadi masukan untuk pengelolaan Bromo yang lebih baik,” ucap Rachmad.
Rekomendasi akademis yang disusun tim UNS ini diharapkan mampu memberi kontribusi nyata bagi pengelolaan TNBTS yang harmonis antara konservasi alam, ketahanan budaya, dan tuntutan wisata masa depan.
Editor : Ryan Haryanto