get app
inews
Aa Text
Read Next : Dugaan Ada Kekerasan Seksual dan Fisik Warnai Penangkapan Demonstran UU TNI di Malang

Prabowo Subianto untuk Indonesia Raya

Kamis, 16 Juli 2026 | 20:44 WIB
header img
Meme yang sedang viral di media sosial. Foto: Dok

OPINI

Oleh HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, Kiai Kampung, Penulis Buku Prabowo untuk Indonesia Raya

SAYA tertawa membaca sebuah meme yang sedang ramai berseliweran di media sosial. Bunyinya: "Prabowo bersama: Jaksa + TNI. Jokowi bersama: Polri + KPK. Rakyat bersama: Damkar. Hidup Damkar!!" Saya tertawa—lalu tawa itu perlahan berubah getir. Sebab meme yang paling lucu selalu meme yang paling jujur. 

Di balik kelakarnya, meme itu adalah potret faktual tentang bagaimana rakyat membaca peta kekuasaan hari ini: institusi-institusi penegak hukum dipersepsikan telah terbelah menjadi faksi-faksi, berbaris di belakang dua kutub kekuasaan, sementara rakyat—yang tidak kebagian tempat di barisan mana pun—hanya bisa berpelukan dengan pemadam kebakaran, satu-satunya aparat berseragam yang dianggap masih tulus menolong tanpa bertanya kau berdiri di kubu mana.

Meme ini harus dibaca sebagai alarm, bukan hiburan. Ia menggambarkan potensi friksi masa depan politik Indonesia yang mengerikan. Jika benar polarisasi itu mengeras—KPK dan Polri dipersepsikan condong ke Solo, TNI dan kejaksaan condong ke Kertanegara—maka yang sedang disemai hari ini adalah bibit pembelahan cebong-kampret jilid ketiga, yang akan panen raya pada kontestasi 2029 dan membakar periode 2029-2034. 

Dua jilid sebelumnya sudah cukup menyakitkan: keluarga pecah di grup WhatsApp, tetangga saling buang muka, ulama dipecah-belah. Jilid ketiga akan jauh lebih berbahaya, karena kali ini yang terbelah bukan hanya pendukung—melainkan dipersepsikan aparat bersenjata dan penegak hukumnya sekalian. 

Jalan paling realistis untuk menutup rapat pintu jilid ketiga itu adalah keberlanjutan: Prabowo-Gibran dua periode. Sebab hanya pemerintahan yang kokoh dan tidak tersandera hitung-hitungan 2029 yang punya keleluasaan membereskan akar persoalannya. Tetapi keberlanjutan elektoral saja tidak cukup. Akar persoalannya harus dicabut sekarang.

Editor : Vitrianda Hilba Siregar

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut