get app
inews
Aa Text
Read Next : Dugaan Ada Kekerasan Seksual dan Fisik Warnai Penangkapan Demonstran UU TNI di Malang

Prabowo Subianto untuk Indonesia Raya

Kamis, 16 Juli 2026 | 20:44 WIB
header img
Meme yang sedang viral di media sosial. Foto: Dok

Pendiri Bangsa adalah Solusi Krisis Kepercayaan Indonesia

Sejak beberapa hari terakhir, berkembang asumsi-asumsi liar—pembusukan wacana yang meracuni kognisi rakyat Indonesia. Perhatikan polanya di linimasa: orang yang benci kejaksaan menghantam kejaksaan luar biasa kerasnya; yang benci Polri menghantam polisi habis-habisan; yang anti tentara menghantam TNI tanpa ampun. 

Podcast-podcast dan kanal-kanal analisis bertaburan teori: bahwa ini perang proksi antara dua matahari kekuasaan; bahwa Febrie hanyalah tumbal yang dikorbankan untuk mengamankan posisi yang lebih tinggi; bahwa "damai" dua institusi pekan ini adalah damai ala kartel—bahkan ada yang tega menulis "sesama setan saling melindungi"; sampai bisik-bisik paling liar: kalau tidak lekas berdamai, giliran petinggi Polri yang dijadikan tersangka. Ada pula asumsi liar yang mengait-ngaitkan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dengan perkara Febrie Adriansyah. 

Mengapa asumsi liar itu tumbuh subur? Karena kasus Febrie, sampai hari ini, bukan menguak gunung es korupsi Indonesia—ia baru melambungkan bau busuknya, tanpa gunungnya sendiri mampu dibongkar oleh aparat penegak hukum. 

Rakyat mencium bau, tetapi tidak ditunjukkan bangkainya; maka rakyat mengarang sendiri letak bangkai itu, dan lahirlah seribu satu teori. Lihat betapa cepatnya makna bergeser: salam komando Jaksa Agung dan Kapolri, juga keakraban TNI dengan dua institusi itu, hanya sebentar dimaknai sebagai salaman keakraban—tak lama kemudian ditafsirkan publik sebagai salaman saling menutupi kesalahan, saling mengunci untuk tidak membuka kebenaran. 

Apalagi ketika sehari kemudian rakyat membaca berita bahwa dalam sprindik baru Kejaksaan Agung, status hukum sang mantan Jampidsus sempat tercantum sebagai saksi—sebelum ditegaskan bahwa status tersangka dari Polri tidak gugur. Bagi ahli hukum, itu mungkin teknis administrasi penyidikan; bagi rakyat yang sudah curiga, itu bensin di atas api.

Pada kondisi seperti inilah Negara Kesatuan Republik Indonesia memerlukan Prabowo Subianto hadir untuk Indonesia Raya—bukan hadir untuk membela faksinya, bukan pula dihadirkan oleh para pembisiknya sebagai panglima salah satu kubu. 

Dan agar beban membersihkan Indonesia tidak menjadi beban yang dipikul sendirian oleh Presiden, maka saya, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, penulis buku Prabowo untuk Indonesia Raya, menyarankan satu jalan yang sederhana namun mendasar: kembalikan solusi atas busuknya pemberantasan korupsi ini kepada pendiri bangsa.

Editor : Vitrianda Hilba Siregar

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut