Di Jalur Wisata Bromo, Kedai Ini Bertaruh pada Menu Tradisional dan Panorama Kebun
MALANG, iNewsMalang.id - Di tengah kepungan kafe-kafe bergaya modern yang terus tumbuh di sepanjang jalur wisata Gunung Bromo, sebuah kedai sederhana di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, memilih jalan berseberangan.

Mengandalkan lanskap perbukitan hijau dan aroma masakan rumahan, Kedai Kopi Gunung Bromo mencoba memikat para pelancong yang lalu lalang menuju puncak kawasan konservasi tersebut.
Siang itu, kabut tipis mulai turun membalut petak-petak ladang kubis, kentang, dan wortel milik warga lokal. Dari balik meja makan kayu di kedai tersebut, pemandangan bentang alam pegunungan Tengger terhampar tanpa sekat.
Pengelola sekaligus pemilik kedai, Uky Widyatmiko (52), menangkap ceruk pasar yang kerap luput dari perhatian para investor kuliner modern. Di saat pelaku usaha lain berlomba menyajikan kopi specialty dan interior minimalis, pria yang akrab disapa Ukik ini justru menyodorkan menu-menu pedesaan seperti sayur lodeh, sayur asem rombusa, hingga tumis semenan.
“Banyak kafe bermunculan, tapi saya ingin konsepnya nyambung,” ujar Ukik saat ditemui, pertengahan pekan lalu. “Kedai ini dekat kebun warga, jadi image kebun dan menu yang disajikan harus sinkron,” tambahnya.

Ukik menilai, ceruk kuliner tradisional kelas kedai di sepanjang jalur utama Sukapura masih sangat terbuka.
“Kalau kelas warung mungkin ada. Tapi yang kelasnya kedai untuk jalur wisata ini belum ada. Celah kosong itu yang saya bidik,” ucapnya kepada iNews Malang, Selasa (4/8/2026).
Strategi tersebut rupanya cukup ampuh menggaet kunjungan. Buka saban hari sejak pukul 08.00 hingga 18.00 WIB, kedai ini kerap menjadi tempat rehat favorit pelancong, baik yang baru turun dari kawah Bromo maupun yang hendak naik.

Untuk menyasar rombongan wisatawan, Ukik mengemas hidangannya dalam format paket hemat Indonesian Favorite dengan ketentuan porsi minimal empat orang (pax).
Pilihannya dipatok mulai Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per porsi. Harga tersebut sudah mencakup nasi putih atau nasi jagung, lauk pauk khas pedesaan seperti ayam goreng bawang dan ikan asin, hingga minuman.
Di jagat maya, tempat rehat ini pun memanen ulasan positif. Di Google Maps, sejumlah pengunjung melemparkan pujian atas keberanian kedai ini mempertahankan cita rasa otentik rumahan di tengah kawasan industri pariwisata yang kian komersial.
“Tempat makan sederhana tapi kualitas terbaik. Harga terjangkau, rasa masakan enak semua,” tulis akun Frsk D dalam ulasannya. “Penolong buat anak rantau yang kangen rumah.”
Pengunjung lain, Yoh Anton Nugroho, menggarisbawahi daya tarik lokasi kedai yang mengandalkan keasrian alam perbukitan Sukapura.
“Tempatnya tidak terlalu luas dan sederhana, tapi cukup nyaman untuk makan sambil menikmati view perbukitan,” ujarnya.
Editor : Ryan Haryanto