Bromo Pascakebakaran, Sendra Tari Roro Anteng Joko Seger Jadi Atraksi Penggaet Wisatawan

Ryan Haryanto
Roro Anteng dan Joko Seger kembali dihidupkan lewat sendra tari di lereng Bromo. (Foto: iNews Malang/Qentanxs Q Nagabinal)

PROBOLINGGO, iNewsMalang.id - Penutupan kawasan Gunung Bromo akibat kebakaran berdampak pada pelaku usaha wisata di sekitarnya, mulai dari Probolinggo, Malang, Pasuruan, hingga Lumajang. Warung, kedai kopi, dan pelaku wisata ikut merasakan sepinya kunjungan wisatawan.

Namun, menunggu wisatawan kembali bukan satu-satunya pilihan. Di Sukapura, jalur Bromo via Probolinggo, sejumlah pelaku seni dan wisata mencoba membuat daya tarik baru agar wisatawan tetap datang ke kawasan lereng Bromo.

Salah satunya lewat pertunjukan Sendra Tari Roro Anteng dan Joko Seger yang dipentaskan di Aworjiwa Coffee Bromo. Ratusan pengunjung datang menyaksikan pertunjukan yang melibatkan sejumlah pelaku seni asli Tengger tersebut.

Gagasan yang dibawa cukup sederhana. Bromo tidak hanya dijual lewat panorama. Cerita dan budaya yang tumbuh di sekitarnya juga bisa menjadi daya tarik.

“Bromo harus pulih. Bromo harus tetap mempesona dengan segala sumber daya manusia dan alamnya,” kata Vega.

Karena itu, kisah Roro Anteng, Joko Seger, dan Kusuma dipilih untuk dibawa ke panggung. Cerita yang selama ini lekat dengan masyarakat Tengger tersebut dikemas dalam sendra tari dengan perpaduan gerak, musik, rias, dan kostum.


Sendratari Roro Anteng-Joko Seger jadi cara pelaku wisata hidupkan kembali Bromo. (Foto: iNews Malang/Qentanxs Q Nagabinal)

Roro Anteng ditampilkan sebagai simbol harmoni dan rahim peradaban. Joko Seger menjadi sosok pelindung yang bijaksana. Sedangkan Kusuma menyimbolkan kejujuran dan keikhlasan.

Adegan pelepasan Kusuma ke kawah Bromo menjadi bagian yang paling mendapat perhatian. Dalam cerita tersebut, Kusuma menerima mandat dari Sang Hyang Brahma.

“Bopo biyung lan dulur dulur reyang kabeh. Rika ajo pada sedih, reyang ngemban mandat jati sangking sang Hyang Brahma neng istana Gunung Bromo,” ucap Kusuma dalam pementasan dengan latar pegunungan tengger itu.

Kusuma juga meninggalkan pesan agar anak cucu Tengger tidak melupakan purnama Kasada dan tetap mengirimkan hasil bumi ke kawah Bromo.

Cerita itu sekaligus menunjukkan hubungan Bromo dengan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Bagi warga Tengger, Bromo bukan sekadar tujuan wisata. Ada tradisi dan keyakinan yang ikut membentuk kehidupan masyarakat.


Gaet wisatawan, pelaku wisata Bromo gelar Sendra Tari Roro Anteng-Joko Seger. (Foto: iNews Malang/Qentanxs Q Nagabinal)

Sebelum sendra tari dimulai, Sekawan Music asal Sukapura tampil sebagai pembuka. Musik menjadi pengantar sebelum penonton mengikuti cerita Roro Anteng dan Joko Seger.

Pementasan digarap sejumlah seniman asli Tengger. Dian Ayu Dewi Anggraini, S.Sn. dan Dian Ekawati, S.Pd. menangani tata tari. Karvian Vega Alvian, S.Sn. menjadi penata musik.

Slamet Susandi, S.Pd., Aprilia Dianasari, dan Septin Vivi Andriyani, S.Pd. menangani rias dan kostum. Sedangkan A. Fauzi Hamzani, S.Sn. bertugas sebagai kurator.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo Habib Mahdi menilai panggung seperti itu bisa menjadi cara mengenalkan budaya Tengger dengan pendekatan yang lebih dekat kepada generasi muda.

“Seni pertunjukan seperti ini bukan sekadar hiburan, tetapi media edukasi nilai-nilai luhur budaya Tengger kepada generasi muda,” kata pria yang juga menjabat anggota DPRD Jatim itu.

Menurut dia, upaya menjaga budaya tidak harus selalu datang dari pemerintah. Pelaku seni, pelaku usaha, dan sektor swasta bisa mengambil peran dengan menyediakan ruang bagi kesenian lokal.

Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Bupati Probolinggo dr Mohammad Haris (Gus Haris), Habib Mahdi, Sekda Ugas Irwanto, Kadis Diskoparekraf Heri Mulyadi, Kadis Dikdaya Hary Tjahjono, Sekdin Diskoparekraf Dian Cahyo Prabowo.

Founder Aworjiwa Coffee Bromo Ainur Rusydi berharap kolaborasi semacam itu tidak berhenti di satu pertunjukan. Dia ingin lebih banyak pelaku seni dan wisata ikut membuat kegiatan yang punya ciri khas Bromo-Tengger.

Respons pengunjung menjadi salah satu pertimbangan untuk menentukan langkah berikutnya. “Doakan saja, kita tunggu respons sebulan ke depan, Mas,” ujar Ainur.

Harapannya, kegiatan budaya bisa berkembang menjadi agenda yang rutin. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat panorama Bromo, tetapi juga punya alasan untuk tinggal lebih lama di Sukapura.

Dengan begitu, ketika Bromo kembali ramai, yang bergerak bukan hanya destinasi utamanya. Warung, kedai, penginapan, jasa wisata, hingga seniman lokal ikut mendapat ruang untuk hidup dari geliat wisata Bromo.

Editor : Ryan Haryanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network