Mengenal Dinar Dirham, Mata Uang di Zaman Rasul

Muhammad Yan Yusuf
.
Jum'at, 26 Agustus 2022 | 06:30 WIB
Mengenal Apa Itu Dinar atau Dirham, Mata Uang di Zaman Rasul ( Foto : MNC Media)

 

JAKARTA,iNewsMalang.id - Saat ini marak keinginan sebagian masyarakat yang ingin menggunakan Dinar Dirham. Lalu apa itu Dinar atau Dirham itu? Apakah cocok untuk dijadikan investasi.

Pertanyaan itu seringkali ditanyakan para investor, mengingat keduanya memiliki nilai yang tersendiri. Terlebih keduanya menjadi alat pembayaran yang sah di jaman Rasulullah. Kini pada masa sekarang keduanya kerap memiliki nilai investasi.

Lalu bagaimana penjelasan apa itu Dinar atau Dirham? Simak penjelasan yang berhasil dihimpun kami dari berbagai sumber.

Apa itu Dinar dan Dirham

Seperti diketahui selain logam mulia berupa emas batangan dengan kadar 24 karat, masyarakat juga sudah mulai mengenal dinar dan dirham sebagai instrumen investasi alternatif. Keduanya merupakan logam mulia yang diterbitkan oleh PT Aneka Tambang Tbk, anak perusahaan BUMN PT Inalum (Persero).

Dinar adalah kepingan logam yang sebagian atau seluruhnya dibuat dari emas. Sementara dirham adalah kepingan logam yang dicetak dari perak sebagai bahan utamanya.

Perkembangan Dinar dan Dirham

Pada zaman dulu, keping emas dinar maupun perak dirham sering dipakai sebagai alat transaksi. Kini, dinar dan dirham lebih sering sebagai sarana investasi atau penyimpan aset ketimbang sebagai alat tukar.

Seperti emas, dinar dan dirham juga relatif kebal terhadap inflasi. Ini karena harga logam mulia cenderung terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

Tren itu membuat penggunaannya kini meluas dan menjadi dua koin ini kerap dijadikan sebagai mahar pernikahan, hadiah, hingga pembayaran zakat.

Kandungan Logam Dinar

Harga dinar atau dirham Antam di dalam peredaran keping logam mulia di Indonesia, dinar Antam memiliki dua jenis, yakni dinar Au 91,7 persen atau dinar dengan kandungan emas 91,7 persen (22 karat).

Lalu ada dinar fine gold 99,99 persen atau dinar dengan kandungan emas 99, 99 persen (24 karat). Untuk beratnya tersedia dari bobot 1 dinar (4,25 gram), 1/2 dinar, 1/4 dinar, 2 dinar, dan 4 dinar.

Melansir laman resmi logammulia.com harga Dinar untuk harga emas dinar, koin 1 dinar produksi Antam 91,7 persen dan berat 4,25 gram dijual seharga Rp3.582.007. Lalu untuk koin 1 emas dinar dengan kandungan emas 99,99 persen dan berat 4,25 gram dijual di harga Rp3.893.000 (1 dinar berapa rupiah).

Kandungan Logam Dirham

Sementara untuk keping perak dirham, Antam saat ini merilis dua keping yakni keping 1 dirham dan 5 dirham. Koin 1 dirham perak 99.95 persen dan berat 2,975 gram dibanderol seharga Rp 94.675.

Untuk koin 5 dirham dengan kandungan perak 99,95 persen dan berat 14,875 gram. Dalam laman resminya, Antam tidak menyertakan harga untuk keping 5 dirham.

Penggunaan dinar dan dirham Koin dinar juga merupakan alat tukar yang diakui secara global. Meski di Indonesia tak lazim digunakan sebagai alat tukar, di sejumlah negara, khususnya negara-negara Timur Tengah, dinar dan dirham populer digunakan sebagai alat tukar seperti keperluan untuk pembayaran zakat.

Mengenal Apa Itu Dinar atau Dirham, Mata Uang di Zaman Rasul

SYARIAH

Mohammad Yan Yusuf

Apa itu Dinar atau Dirham? Apakah cocok untuk dijadikan investasi.

IDXChannel - Apa itu Dinar atau Dirham? Apakah cocok untuk dijadikan investasi.

Pertanyaan itu seringkali ditanyakan para investor, mengingat keduanya memiliki nilai yang tersendiri. Terlebih keduanya menjadi alat pembayaran yang sah di jaman Rasulullah. Kini pada masa sekarang keduanya kerap memiliki nilai investasi.

Lalu bagaimana penjelasan apa itu Dinar atau Dirham? Simak penjelasan yang berhasil dihimpun kami dari berbagai sumber.

Apa itu Dinar dan Dirham

Seperti diketahui selain logam mulia berupa emas batangan dengan kadar 24 karat, masyarakat juga sudah mulai mengenal dinar dan dirham sebagai instrumen investasi alternatif. Keduanya merupakan logam mulia yang diterbitkan oleh PT Aneka Tambang Tbk, anak perusahaan BUMN PT Inalum (Persero).

Dinar adalah kepingan logam yang sebagian atau seluruhnya dibuat dari emas. Sementara dirham adalah kepingan logam yang dicetak dari perak sebagai bahan utamanya.

Perkembangan Dinar dan Dirham

Pada zaman dulu, keping emas dinar maupun perak dirham sering dipakai sebagai alat transaksi. Kini, dinar dan dirham lebih sering sebagai sarana investasi atau penyimpan aset ketimbang sebagai alat tukar.

Seperti emas, dinar dan dirham juga relatif kebal terhadap inflasi. Ini karena harga logam mulia cenderung terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

Tren itu membuat penggunaannya kini meluas dan menjadi dua koin ini kerap dijadikan sebagai mahar pernikahan, hadiah, hingga pembayaran zakat.

Kandungan Logam Dinar

Harga dinar atau dirham Antam di dalam peredaran keping logam mulia di Indonesia, dinar Antam memiliki dua jenis, yakni dinar Au 91,7 persen atau dinar dengan kandungan emas 91,7 persen (22 karat).

Lalu ada dinar fine gold 99,99 persen atau dinar dengan kandungan emas 99, 99 persen (24 karat). Untuk beratnya tersedia dari bobot 1 dinar (4,25 gram), 1/2 dinar, 1/4 dinar, 2 dinar, dan 4 dinar.

 

Melansir laman resmi logammulia.com harga Dinar untuk harga emas dinar, koin 1 dinar produksi Antam 91,7 persen dan berat 4,25 gram dijual seharga Rp3.582.007. Lalu untuk koin 1 emas dinar dengan kandungan emas 99,99 persen dan berat 4,25 gram dijual di harga Rp3.893.000 (1 dinar berapa rupiah).

Kandungan Logam Dirham

Sementara untuk keping perak dirham, Antam saat ini merilis dua keping yakni keping 1 dirham dan 5 dirham. Koin 1 dirham perak 99.95 persen dan berat 2,975 gram dibanderol seharga Rp 94.675.

Untuk koin 5 dirham dengan kandungan perak 99,95 persen dan berat 14,875 gram. Dalam laman resminya, Antam tidak menyertakan harga untuk keping 5 dirham.

Penggunaan dinar dan dirham Koin dinar juga merupakan alat tukar yang diakui secara global. Meski di Indonesia tak lazim digunakan sebagai alat tukar, di sejumlah negara, khususnya negara-negara Timur Tengah, dinar dan dirham populer digunakan sebagai alat tukar seperti keperluan untuk pembayaran zakat.

Editor : Arif Handono
Bagikan Artikel Ini