KOTA BATU, iNewsMalang.id - Sebanyak 125 ton sampah muncul di Kota Batu setiap hari. Angka itu bukan kecil untuk kota yang mengandalkan wajah bersih sebagai daerah tujuan wisata.
Gunungan sampah pun tak mungkin terus diselesaikan dengan cara lama. Dikumpulkan dari rumah, dinaikkan ke truk, lalu dibuang ke TPA.
Pemkot Batu mulai mencari jalan keluar. Hulu hingga hilir bakal dibenahi. Mulai kebiasaan warga membuang sampah sampai masa depan TPA Tlekung.
Wali Kota Batu Nurochman mengakui persoalan sampah tak bisa dibebankan kepada petugas kebersihan dan armada pengangkut. Ada perubahan sistem yang harus dilakukan.
“Kita harus menyelesaikan persoalan sampah secara fokus, terkonsentrasi, dan total,” ujar Nurochman, Rabu (2/9/2026).
Persoalan paling awal justru ada di rumah. Sampah dari dapur, plastik, hingga bahan yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan masih kerap bercampur dalam satu wadah.
Kondisi itu membuat seluruh sampah akhirnya memiliki tujuan yang sama: TPA.
Padahal, tidak semua yang dibuang harus berakhir menjadi timbunan. Pemkot Batu kini mendorong pemilahan sejak dari sumber melalui program Local Service Delivery Improvement Project (LSDP).
Targetnya sederhana, tetapi pekerjaan rumahnya panjang. Sampah organik dan anorganik dipisahkan sebelum masuk ke sistem pengangkutan.
Bila pemilahan berjalan, beban di hilir bisa berkurang. Yang masih bernilai ekonomi dapat didaur ulang. Sampah organik bisa diolah. TPA hanya menerima residu.
Pola serupa juga akan didorong ke sektor usaha. Hotel, restoran, kafe, dan destinasi wisata yang setiap hari menghasilkan sampah tidak lagi diharapkan sekadar menyerahkan seluruh limbahnya kepada truk pengangkut.
Sementara itu, perubahan juga disiapkan di Tlekung. TPA yang selama ini menjadi ujung perjalanan sampah bakal diarahkan berubah fungsi menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
Artinya, Tlekung tak lagi sekadar menjadi lokasi menimbun sampah.
“Secara bertahap mengarahkan TPA Tlekung untuk bertransformasi fungsi menjadi TPST. Dengan konsep baru ini, volume sampah yang berakhir di TPA dapat ditekan serendah mungkin,” kata pria yang akrab disapa Cak Nur itu.
Rencana itu mendapat dukungan dari pemerintah pusat. Statistisi Ahli Pertama Ditjen Bina Bangda Kemendagri Ahmad Azam Al Asy’raf menilai pembenahan sistem persampahan di Kota Batu sejalan dengan konsep pembangunan perkotaan berkelanjutan.
“Kami berharap Kota Batu tidak hanya berhasil menata lingkungannya sendiri, tetapi juga mampu menjadi role model atau percontohan bagi daerah-daerah lain di Indonesia dalam hal inovasi pengelolaan sampah,” ucapnya.
Namun, perubahan sistem itu pada akhirnya akan kembali pada perilaku masyarakat. Sebab, sebanyak apa pun fasilitas pengolahan dibangun, persoalan tak akan selesai jika seluruh jenis sampah tetap bercampur sejak dari rumah.
Kota Batu kini punya angka yang harus ditaklukkan setiap hari: 125 ton.
Dan angka itu akan terus bertambah jika sampah masih diperlakukan dengan pola lama, angkut, buang, lalu menunggu TPA penuh.
Editor : Ryan Haryanto
Artikel Terkait
